Beranda > BERITA, internet, ponsel > Catatan Nol Kilobyte Dari Generasi Hilang Sinyal ke Generasi Hilang Akal

Catatan Nol Kilobyte Dari Generasi Hilang Sinyal ke Generasi Hilang Akal

28 Desember 2009

Generasi pertama ponsel boleh dibilang sebagai generasi hilang sinyal, karena sulitnya mendapatkan layanan. Nah, generasi berikutnya, bisa jadi adalah generasi hilang akal.

Ingatlah kembali masa-masa ‘indah’ ketika pertama kali ponsel diperkenalkan di tanah air. Barang dengan harga selangit itu bagaikan penanda status sosial yang bukan main.

Kala itu, seseorang harus merogoh kocek hingga belasan juta rupiah untuk mendapatkan sebuah ponsel. Sudah mahal, kualitas layanan yang dihadirkan pun sangat luar biasa. Maksudnya, luar biasa mengesalkan.

Cakupan sinyal telekomunikasi seluler, pada masa itu, benar-benar tidak bisa diandalkan. Maka lahirlah ledekan yang mungkin saat ini sudah dilupakan: GSM = Geser Sedikit Mati.

Ya, generasi awal ponsel dan layanan telekomunikasi seluler layaklah mendapat julukan Generasi Hilang Sinyal. Karena mudah sekali bagi pelanggan pada saat itu untuk kehilangan sinyal yang mengakibatkan sambungan telepon putus.

Perangkat yang ada pun, dari sisi pelanggan, boleh dikatakan tak bisa diandalkan. Kemampuannya terbatas pada melakukan panggilan telepon dan.. yah, praktis hanya sebatas itu saja.

Ada Lawan, Ada Kawan

Buruknya kualitas layanan pada masa-masa awal tak bisa begitu saja disalahkan pada teknologi. Faktor lain yang membuat layanan stagnan adalah industri.

Mari kita berandai-andai. Bayangkan jika di sebuah desa hanya ada satu orang yang bisa membuat bumbu pecel, tentu mereka yang mau makan pecel harus meminta atau membeli dari orang itu.

Sebagai satu-satunya yang bisa, orang itu –sebut saja namanya Mbo Nem– bisa seenaknya sendiri menentukan harga dan kualitas bumbu pecel yang ia sediakan. Jika sedang kesal, Mbo Nem bisa membuat bumbu yang pedas bukan main, tak peduli pelanggannya jadi sakit perut. Jika sedang malas, bumbu pecel Mbo Nem bisa jadi tak ada, padahal yang menunggu sudah banyak.

Sekarang bayangkan jika datang penyedia bumbu pecel lain. Orang-orang akan mempunyai pilihan. Dan agar tetap dipilih, para pembuat bumbu ini mau tidak mau harus melakukan berbagai cara untuk menggaet pembelinya.

Bisa jadi yang ditawarkan adalah rasa pecel yang membangkitkan nafsu makan. Bisa jadi yang jadi andalan adalah harganya yang murah. Apapun itu, masing-masing penjual pecel –jika cerdas dan mau tetap berjualan– tak akan tinggal diam melihat aksi pesaingnya.

Sebelum menjadi terlalu lapar, karena analogi di atas, mari kembali ke pokok tulisan ini: industri telekomunikasi nirkabel. Kenyataannya, industri yang hanya dikuasai oleh satu pelaku jelas tak akan melahirkan inovasi.

Jangan Paksa Aku (Untuk Setia)

Banjir persaingan, banjir inovasi. Itulah yang terjadi kemudian di industri telekomunikasi seluler di Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, yang paling diuntungkan dalam kejadian ini adalah para pelanggan. Masyarakat bebas memilih dan memilah, layanan siapa yang mau mereka gunakan.

Tak suka dengan yang satu, beralihlah ke yang lain. Demikian yang kemudian terjadi di masyarakat. Bagai anak di toko kue, semua kue akan terlihat enak dan ingin dilahap!

Churn rate, tingkat ‘kemubaziran’ nomor pelanggan, pun melonjak. Kartu telekomunikasi seluler, yang pada suatu masa pernah jadi tanda strata sosial berubah bagaikan karcis kereta api yang bisa dibuang-buang seenaknya.

Operator pun tak bisa memaksa masyarakat untuk setia. Di hadapan pilihan yang berjubal-jubal itu, bagaimana seorang pelanggan bisa setia?

Generasi Hilang Akal versi 1.0

Banyak cara dilakukan operator untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah adu gengsi antar operator demi menancapkan citra mereka di kepala para pelanggan.

Adu gengsi itu biasanya nampak pada berbagai kampanye publik. Namun di luar itu, adu gengsi juga nampak terjadi saat semua operator berebut lisensi frekuensi 3G.

Lisensi untuk menggunakan kavling frekuensi yang sudah ditinggalkan teknologi lawas itu ternyata bagaikan segelas air dingin di hadapan penjelajah gurun. Sangat memikat dan menggiurkan.

Para operator pun bagaikan hilang akal demi mendapatkan kavling tersebut. Padahal, harga yang harus dibayarkan pada pemerintah demi mendapatkan lisensi 3G benar-benar mahal.

Akibatnya, generasi ketiga alias 3G ini di Indonesia lebih layak disebut sebagai Generasi Hilang Akal.

Gugurnya ‘Sang Pejuang’

Mari mengheningkan cipta sejenak untuk mengingat ‘pejuang’ yang saat ini boleh dibilang sudah gugur dalam medan perang 3G: video call.

Video Call adalah salah satu korban ‘hilang akal’ yang paling monumental. Karena, pada awal 3G mulai disebarluaskan di Indonesia, video call menjadi teknologi yang dikedepankan.

Padahal tak semua orang, bahkan hanya segelintir orang, yang mau melakukan panggilan video. Ini karena melakukan panggilan via video berarti memberikan perhatian penuh pada lawan bicara, jauh berbeda dibandingkan panggilan telepon (atau SMS) yang bisa dilakukan sambil mengerjakan hal lain.

Jika yang mau saja hanya sedikit, apalagi yang butuh? Kembali ke ibarat penjual pecel tadi, video call ibaratnya para penjual pecel yang sibuk menawarkan dagangan salad yang sebenarnya tak disukai penduduk desa.

Broadband Nirkabel

Tak berapa lama, para pelaku industri akhirnya sadar juga, bahwa 3G adalah soal kemampuan jaringan. Maka lahirlah apa yang dikenal sebagai akses internet broadband nirkabel berbasis teknologi 3G.

Murahnya modem ditambah ketatnya persaingan membuat akses teknologi 3G bisa hadir dengan memikat tanpa perlu gembar-gembor. Ini ibarat penjual pecel yang menarik pembeli dengan menambahkan porsi nasi yang dihidangkan.

Jika pecelnya enak, pembeli tentu akan lebih senang melahap lebih banyak nasi. Jika nasinya banyak, pembeli tentu berpotensi untuk menambah pecel yang mereka makan juga.

Demikianlah teori kesetiaan pelanggan dengan menyediakan layanan internet. Pengguna yang puas dengan layanan yang disediakan, teorinya, akan mau memilih sang operator untuk keperluan lainnya.

Dari 3G ke 4G

3G, lengkap dengan berbagai upgrade yang dijuluki 3.5 G dan lain sebagainya, lama-kelamaan sudah usang. Jaringan yang lebar itu akhirnya terasa sesak juga dan pelanggan sabar-tak sabar menunggu datangnya generasi berikutnya.

Generasi yang akan datang ini disebut dengan 4G. Namun apa sebenarnya 4G itu masih bisa diperdebatkan.

Definisi 4G paling standar adalah yang dibuat oleh International Telecommunication Union, Radiocommunication Sector (ITU-R). Definisi itu bernama IMT Advanced (International Mobile Telecommunications Advanced).

Teknologi 4G haruslah memiliki kemampuan transfer data tertinggi hingga sekitar 100 Mb/s untuk akses mobile. Untuk akses mobilitas terbatas, puncaknya haruslah mencapai 1 Gb/s.

Lebih dari itu, sistem 4G diharapkan bisa menyediakan solusi yang sepenuhnya berbasis Internet Protocols (IP). Ini termasuk telepon berbasis IP, akses internet ultra-broadband dan multimedia streaming dengan kemampuan High Definition.

Bukan Wimax, Bukan Pula LTE

Sebagian mengatakan, 4G adalah WiMax. Di Indonesia, sebagian lisensi Wimax ini sudah dilelang oleh pemerintah. Diharapkan pada 2010 penyelenggaranya pun sudah mulai berkiprah.

Namun patut dicatat bahwa Wimax yang telah dilelang di Indonesia bukanlah Mobile Wimax. Dan oleh karena itu, sulit dikatakan sebagai 4G.

Wimax yang telah dilelang di Indonesia adalah sesuai standar IEEE 802.16d alias Wimax dengan kemampuan nomadik (bukan mobile sepenuhnya). Sedangkan yang sedang ramai didorong di dunia adalah 802.16e yang mobile.

Nah, yang konon akan menjadi 4G adalah 802.16m, sebuah standar yang bahkan saat ini masih dikembangkan. Sehingga janganlah berkesimpulan Wimax akan menjadi 4G di Indonesia dalam waktu dekat.

Lagu lain yang juga kerap disenandungkan dengan nada 4G adalah Long Term Evolution (LTE). Layanan berbasis LTE itu bahkan telah diperkenalkan dan tersedia di Stockholm serta Oslo dengan label 4G pada 14 Desember 2009.

Namun, konon, LTE yang akan layak memenuhi definisi 4G adalah LTE-Advanced. Sehingga sebenarnya, menurut standar ini, belum ada satu pun layanan 4G di dunia.

Generasi Hilang Akal versi 2.0

Terlepas dari semua perdebatan itu, ada satu hal yang pasti dari ‘generasi baru’ di teknologi telekomunikasi. Setiap peningkatan teknologi akan menghadirkan kemampuan layanan data yang makin besar.

Dari sisi pelanggan, tentu harapannya generasi keempat teknologi telekomunikasi seluler ini bisa menghasilkan ‘Generasi Hilang Akal’ versi 2.0.

Di satu sisi ini berarti berharap semua operator akan ‘hilang akal’ dan melakukan segala cara untuk menghadirkn teknologi 4G itu nantinya di Indonesia.

Di sisi lain, pelanggan juga diharapkan boleh ‘hilang akal’ dalam mengakses konten internet yang makin lama makin gila saja dengan bekal akses 4G tersebut.

Pengguna 3G saat ini sudah tak perlu berpikir dua kali untuk mengakses situs seperti detik.com atau google.com. Namun untuk situs ala YouTube, ada pertimbangan panjang yang biasanya terjadi.

Apalagi untuk mengakses film dengan durasi 70 menit via internet. Dengan bekal akses 3G saat ini? Mimpi saja akan lebih enak dan lebih cepat daripada menunggu videonya terunduh.

Nah, hadirnya 4G nanti, diharapkan bisa membuat pengguna boleh ‘hilang akal’ dan mengunduh semau-maunya konten-konten besar di internet. Tentunya diharapkan yang diunduh adalah konten-konten yang legal.

Satu hal yang pasti, 4G jangan dianggap sebagai sebuah obat mujarab untuk segala penyakit. Sekadar memasang 4G tanpa dibarengi kesediaan menjaga kualitas layanan adalah omong kosong belaka.

Di era ‘hilang akal’ nanti, masih ada satu bagian dari ‘akal sehat’ yang tak boleh hilang dari benak operator. Akal sehat ini berbunyi ‘memberikan yang terbaik untuk pelanggan’.

Nah, sebelum benar-benar ‘hilang akal’ dan makin tak karuan, mari kembali jernihkan pikiran dan lupakan segala buruk sangka. Mari kembali ke Nol Kilobyte.

Catatan Nol Kilobyte merupakan opini dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.

Kategori:BERITA, internet, ponsel
%d blogger menyukai ini: